Mana yang lebih baik?Bila langsing dengan berat badan yang terus terjaga menjadi dambaan Anda, maka mulailah membatasi asupan kalori. Menurut Donald Hensrud, M.D dari Mayo Clinic, mengurangi asupan kalori lebih efektif untuk melawan kegemukan dibanding meningkatkan frekuensi olahraga. Kunci melawan kegemukan pada dasarnya adalah jumlah kalori yang dibakar harus lebih besar dari yang dikonsumsi. Menurut Hensrud, 3500 kalori sama dengan 1 pound (0,45 kg) lemak. Jadi, bila Anda ingin turun 1 pound tiap minggu, itu artinya Anda harus mengurangi 500 kalori dari menu makanan setiap hari (500 kalori x 7 hari).
Meski begitu, bukan berarti olahraga tidak ada dalam kamus, karena diet mati-matian tanpa adanya aktivitas fisik tidak akan menghasilkan hasil yang optimal. "Dengan berolahraga, kelebihan lemak yang tidak bisa dikurangi dari diet bisa dibakar," kata Hensrund.
Selain itu, olahraga rutin juga akan membuat berat badan lebih stabil dan tubuh lebih bugar. Olah tubuh yang kita lakukan juga akan menyehatkan jantung, melancarkan peredaran darah, serta memperbaiki mood. Studi terbaru juga menyebutkan banyak bergerak bisa menekan nafsu makan.
Penelitian menunjukkan, orang yang rutin berolahraga berat badannya lebih stabil. Sementara itu mereka yang mengandalkan diet saja memang bisa menurunkan badan secara drastis, tapi setelah dietnya berhenti, tubuh pun gemuk kembali.info from kompas
.............................................................................................................................................................................................................................................
Setiap orang pasti ingin berumur panjang. Tapi, bila usia senja itu harus dijalani dengan kondisi kesehatan yang buruk, tentu hidup hanya akan menjadi beban. Konon pada usia di atas 60 tahun, fisik mulai lemah dan daya ingat menurun tajam.
Tapi Anda tak perlu khawatir. Berkat olahraga secara teratur, tidak merokok, aktif menyibukkan diri, dan tinggal dengan seseorang, ternyata bisa membuat warga senior tetap fit secara fisik dan mental. Demikian menurut kajian terbaru mengenai hidup sehat di usia senja.
"Pesan dari studi ini adalah bahwa orang berusia lanjut tetap bisa menjaga fungsi kognitifnya. Banyak orang khawatir mereka akan mengalami penurunan fungsi kognitif saat tua. Padahal, tak semua orang mengalaminya," kata Alexandra Fiocco, mahasiswa postdoctoral dari Universitas California, San Fransisco, AS.
Fiocco dan timnya menguji 2.500 pria dan wanita berusia 70 dan 79 tahun yang tinggal di Memphis AS dalam studi bertajuk Health, Aging and Body Composition. Kemampuan kognitif para responden dites dalam empat sesi, yakni pada awal studi, tahun ke tiga, lima, dan delapan tahun kemudian.
Seiring dengan berjalannya waktu, kemampuan kognitif para responden memang berkurang. Sebanyak 53 persen mengalami penurunan kognitif minor dan 16 persen penurunan kognitif mayor. Namun, 30 persen peserta studi tidak mengalami penurunan, bahkan skor mereka naik.
Ternyata, kuncinya ada pada gaya hidup mereka. Ke-30 persen responden itu rutin berolahraga, minimal seminggu sekali. Para lansia yang pendidikannya minimal SMA juga punya daya ingat yang lebih baik dibanding yang kurang berpendidikan.
Sementara itu, lansia yang tetap aktif bekerja atau menjadi relawan organisasi, ditemukan lebih bugar dan punya daya ingat yang baik. "Carilah aktivitas yang berbeda, jadi relawan atau aktif di organisasi. Pokoknya lakukan hal-hal untuk terus mengasah otak," kata Dr John Hart, profesor dalam bidang saraf dan otak dari Universitas Texas.
Untuk menjaga kesehatan mental dan terhindar dari rasa kesepian di usia senja, Hart juga menyarankan agar para lansia tidak hidup sendirian.
info kompas